Dulu, di Sungai Tulang Bawang, ada buaya yang suka menculik penduduk desa. Namanya Buaya Perompak. Banyak manusia yang hilang begitu saja saat mandi atau mencuci di sungai itu.
Suatu hari, Aminah mencuci baju di sungai itu. Dia sendirian saja. Sepertinya, dia lupa bahwa Buaya Perompak selalu siap menyergap.
Dan, ternyata benar. Tiba-tiba, Buaya Perompak muncul. Aminah menjerit, lalu pingsan karena ketakutan. Saat dia sadar, dia melihat ke sekelilingnya.
“Di mana aku? Ibu… Ibu...” panggil Aminah lemah. “Ah... rupanya kau sudah sadar.” Buaya Perompak ada di hadapannya. Meski ketakutan, Aminah berusaha tenang.
”Sekarang, kau berada di dasar sungai, di gua kediamanku. Tak ada seorang pun yang bisa menolongmu,” kata Buaya Perompak sambil menyeringai lebar. Aminah menggigil. “Kau akan memakanku?” Buaya Perompak menggeleng.
“Aku hanya butuh teman. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu emas berlian itu,” kata Buaya Perompak menunjuk sekotak peti di ujung gua.
Aminah tak bisa menolak. Selain itu, dia tak tahu bagaimana caranya untuk pulang. Maka, dia pun berusaha menjadi teman Buaya Perompak.
Namun, diam-diam Aminah mencari akal untuk keluar dari gua itu. Dia tak mau selamanya terkurung di sana. Dia rindu pada ibu dan keluarganya. Aminah berusaha mengorek keterangan dari Buaya Perompak.
”Dari mana kau mendapat semua perhiasan ini? Semuanya bagus.” Aminah berpura-pura mengagumi sebuah kalung mutiara.
”Aku merampoknya dari orang-orang kaya. Dulu, aku berwujud manusia biasa. Namun, sejak aku terkena kutukan, aku berubah menjadi seperti ini.”
”Pantas saja kau bisa bicara. Lalu, dari mana kau mendapatkan makanan? Tiap hari kau menyediakan makanan lezat untukku,” tanya Aminah lagi.
”Ah, itu gampang. Tiap bulan purnama tiba, aku berubah wujud kembali menjadi manusia. Aku akan menjual sedikit perhiasanku untuk kutukar dengan bahan makanan,” Buaya Perompak menyeringai bangga.
Lalu, tanpa curiga, Buaya Perompak melanjutkan bicaranya. ”Aku keluar melalui terowongan di balik gua ini. Terowongan itu langsung tembus ke pasar.” Sekarang, Aminah tahu jalan keluar dari gua itu. Dia lalu menunggu Buaya
Perompak lengah. Saat yang ditunggu Aminah tiba. Buaya Perompak tidur pulas. Dia lupa menutup pintu gua. Aminah segera lari ke balik gua, dan benar, ada terowongan di sana.
Aminah berlari menyusuri terowongan. Tak lama kemudian, dia melihat seberkas cahaya. Ternyata, dia sudah sampai di ujung terowongan. Aminah berhasil menyelamatkan diri!
Setibanya di rumah, Aminah disambut oleh ayah dan ibunya.
Mereka tak menyangka bahwa Aminah masih hidup. Kisah Aminah semakin mengingatkan penduduk desa agar berhati- hati jika mencuci di Sungai Tulang Bawang.