Asal Usul Pohon Sagu dan Palem Sulawesi Tengah

Dahulu, ada sebuah keluarga yang amat miskin. Mereka tinggal di pinggir hutan Dolo. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki- lakinya. Untuk makan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan di hutan. Sebenarnya, beberapa kali si istri mengusulkan agar mereka mencoba bercocok tanam, namun suaminya menolak. Malas, itu alasannya. 

Namun, lama-kelamaan si suami bosan juga hidup miskin. Dia setuju untuk membuka lahan dan bercocok tanam. Tentu saja istrinya amat senang. “Tapi kita harus mencari lahan terlebih dahulu,” kata istrinya. “Aku akan membuka lahan di hutan,” jawab si suami. 

Si suami benar-benar melaksanakan niatnya. Pagi-pagi dia sudah berangkat ke hutan Doho. Dia mencari tempat yang cocok baginya untuk membuka lahan. Setelah menemukannya, dia segera pulang dan mengabarkan pada istrinya. 

“Bagaimana? Apakah sudah ada lahan yang bisa kita tanami?” tanya istrinya. Si suami mengangguk. 

“Aku sudah menemukan tempatnya. Besok, aku akan mulai menebangi pohon dan menanam biji-bijian.” 

Si istri senang sekali, karena suaminya sudah tidak malas lagi dan benar-benar ingin mengubah nasib mereka. Esok harinya, si suami benar- benar berangkat ke hutan. Dia membawa perlengkapan untuk membuka lahan. Tapi, setelah sampai di hutan, tiba-tiba saja sifat malasnya muncul lagi. Dia hanya duduk- duduk sambil melamun, dan akhirnya tertidur. Saat dia bangun, hari sudah sore. Dia pulang ke rumah. 

“Bagaimana? Sudahkah lahan kita siap?” sambut istri dan anaknya dengan riang. “Aku ingin membantu Ayah menanam biji-bijian,” imbuh anaknya. 

Si suami menggeleng. “Belum, lahan kita belum siap. Besok baru akan kukerjakan,” Meski heran, si istri diam saja. 

Dan begitulah yang terjadi tiap hari. Si suami kembali bermalas-malasan. Dia tak kunjung membuka lahan. Lama-lama, istrinya penasaran karena tiap hari si suami menjawab bahwa lahannya belum siap. 

Diam-diam, si istri pun mengikuti suaminya ke hutan. Dia lalu melihat bahwa suaminya sedang bermalas-malasan. Si istri pun kecewa. 

Melihat kedatangan istrinya, si suami malah marah. Dia merasa, istrinya memata-matainya. Dia lalu meninggalkan istrinya sendiri di hutan. 

Karena amat kecewa, si istri pun menangis. Dia lalu berjalan menyusuri hutan tanpa tujuan jelas. Dia berjalan jauh sekali, dan menemukan sebuah telaga. Karena ingin menyegarkan diri, si istri pun berjalan ke arah telaga. Namun malang baginya, dia terpeleset dan tercebur ke dalam telaga itu. 


Sementara itu, di rumah, si suami mulai gelisah saat menyadari bahwa istrinya tak kunjung pulang. Dengan ditemani oleh anaknya, dia kembali ke hutan. Setelah lama mencari dan terus berjalan, akhirnya mereka menemukan telaga itu. 

Saat itulah mereka berdua melihat bahwa tubuh si istri sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu di tengah telaga. 

Melihat keadaan ibunya, si anak jadi panik. Tanpa pikir panjang, dia menceburkan dirinya ke telaga. Dia ingin menolong ibunya. Namun, dia bernasib sama seperti ibunya. Dia juga menjelma menjadi pohon, tetapi bukan pohon sagu, melainkan pohon aren. Melihat apa yang terjadi pada istri dan anaknya, si suami hanya bisa menangis dan menyesal.