Kisah Si Pondik Nusa Tenggara Barat

Pondik adalah pemuda pemalas dan licik. Dia sering menipu orang untuk mendapatkan uang. 

Suatu hari, dia dihukum oleh warga desa karena telah menipu mereka. Ya, Pondik menjual sebuah periuk tanah berisi lebah. Dia berkata pada para warga, bahwa periuk itu adalah gong antik. Saat digoyang-goyang, periuk itu akan mengeluarkan suara nguuung... 

Warga yang percaya pun membeli periuk itu. Pondik mendapat banyak uang. Namun, karena penasaran, si pembeli membuka periuk itu. Dan, lebah-lebah pun menyerang semua warga. 

Tentu saja warga marah. Dengan badan bengkak karena disengat lebah, mereka mencari Pondik dan menggiringnya ke balai desa untuk diadili. 

Pondik lalu dihukum. Tangannya diikat ke sebuah pohon sampai dia menyesali perbuatannya dan berjanji tak mengulanginya. Namun, Pondik tetaplah Pondik yang licik. Bukannya menyesal, dia malah berulah lagi. 

Setelah beberapa jam terikat, lewatlah teman Pondik yang bernama Mtembong. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Mtembong. Mtembong baru saja pulang dari desa tetangga sehingga tak tahu apa yang telah terjadi di desanya. ”Oh, aku sedang berolahraga,” jawab Si Pondik sambil berayun-ayun di batang pohon. ”Wah, rajin sekali. Pantas saja tanganmu kekar,” jawab Mtembong. 

Pondik lalu menawarkan Mtembong untuk mencoba olah raga seperti yang dilakukannya. Mtembong setuju, dia melepas ikatan tangan Pondik, dan sekarang Pondik mengikat dan menggantung tangan Mtembong ke pohon itu. Setelah 

itu, Pondik buru-buru meninggalkan Mtembong. 

Mtembong mencoba berayun- ayun, tetapi tangannya malah sakit. Dia berteriak-teriak memanggil Pondik, tetapi Pondik sudah jauh meninggalkannya. Untunglah ada seorang warga yang lewat. 

”Bukankah seharusnya Si Pondik yang menjalani hukuman itu?” tanya warga. ”Hukuman?” tanya Mtembong tak mengerti. 

Akhirnya, Mtembong sadar bahwa Pondik telah menipunya. Mtembong dan warga yang lain pun amat marah. Mereka lalu mencari dan menangkap Pondik. Kepala desa lalu menghukum Pondik dengan memintanya untuk menyerahkan seekor kerbau yang besar dan gemuk. Si Pondik bingung, dia tak tahu bagaimana caranya mendapat seekor kerbau. 

Saat sedang bingung, dia berjalan ke desa tetangga dan melewati sebuah rumah yang sedang mengadakan pesta. Pondik beruntung. Saat itu, tuan rumah sedang membagi-bagikan daging kerbau pada para tamunya. Pondik lalu memohon agar bagian kepala dan leher kerbau diberikan kepadanya. Tuan rumah pun setuju. Pondik pulang dengan hati riang. Dengan licik, dia menanam kepala kerbau itu di sebuah kubangan yang berlumpur. Seutas tali diikatkannya pada leher kerbau itu, lalu diikatkan pada sebatang pohon. 

”Aku sudah menyiapkan kerbau untuk kalian. Kerbaunya kutaruh di kubangan di sebelah timur sana,” katanya pada kepala desa dan seluruh warga. Setelah berkata demikian, Si Pondik cepat-cepat mengemasi barang-barangnya dan diam- diam pergi meninggalkan desanya. 

Para warga mendatangi kubangan yang dimaksud Pondik. ”Ah, kali ini dia jujur. Lihat kerbau itu!” teriak kepala desa. Dibantu warga, dia melepas ikatan di pohon dan menarik kerbau itu. Namun, apa yang terjadi? Ternyata yang mereka dapatkan hanyalah kepala kerbau beserta lehernya. 

Sudah terlambat bagi warga desa untuk mencari Pondik. Dia telah pergi jauh dari desanya.