Alkisah, hiduplah seorang raja bijaksana dan dicintai rakyatnya. Dia memiliki seorang putri bernama Putri Jelitani. Karena dilahirkan di musim kemarau, dia juga sering dipanggil dengan sebutan Putri Kemarau.
Raja amat menyayangi putri satu-satunya itu. Apalagi, permaisuri telah meninggal. Meski tak lagi memiliki ibu, Putri Jelitani hidup bahagia.
Namun, suatu hari kebahagiaan mereka terusik. Musim kemarau yang panjang melanda negeri mereka. Sungai mengering, pepohonan meranggas, dan panen pun
gagal. Selain itu, banyak binatang ternak yang mati. Rakyat benar- benar menderita. Melihat keadaan rakyatnya, Raja tak tinggal diam. Beliau mencari cara agar negerinya terselamatkan dari musim kemarau yang berkepanjangan.
Didampingi oleh Putri Jelitani, Raja memanggil penasihat kerajaan untuk membicarakan masalah tersebut. Namun, mereka tak menemukan jalan keluarnya, sampai akhirnya Putri Jelitani berkata, “Sebaiknya kita berdoa memohon kepada Tuhan agar hujan segera datang.”
Raja dan penasihat istana setuju. Rakyat diminta untuk berdoa agar musim kemarau segera berlalu.
Setelah beberapa hari terus berdoa, Putri Jelitani bermimpi. Dalam mimpinya, dia bertemu dengan ibunya.
“Negeri ini bisa selamat jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” kata ibunya dalam mimpi.
Putri Jelitani tergeragap. Dia lalu mencari ayahnya dan menceritakan mimpinya. Raja tercenung. “Aneh sekali. Semalam, aku juga bermimpi hal yang sama,” gumamnya. Akhirnya, Raja memanggil penasihat istana, yang lalu menyarankan agar Raja melaksanakan mimpi tersebut.
“Tapi, siapakah gadis yang mau berkorban seperti itu? Aku yakin, tak ada yang mau,” kata Raja.
Tiba-tiba Putri Jelitani menyela, “Aku mau, Ayah. Aku rela mengorbankan diri, asalkan rakyat kita kembali makmur. Aku tak tega melihat keadaan mereka sekarang.”
Raja dan penasihat istana terkejut. Raja menolak keinginan putrinya. Beliau tak mau kehilangan putri satu-satunya.
Namun Putri Jelitani bersikeras. Disaksikan oleh rakyatnya, dia menuju ke ujung tebing laut, dan bersiap untuk terjun. Di bawahnya, air laut bergolak dahsyat.
Raja menutup matanya, Beliau tak tega menyaksikan tubuh putrinya ditelan ombak. “Selamat tinggal, Ayah. Selamat tinggal semuanya!” ucap Putri Jelitani.
Tiba-tiba terdengar petir menyambar-nyambar. Langit menjadi gelap dan hujan turun deras sekali. Dalam waktu singkat, seluruh wilayah kerajaan digenangi air. Sungai-sungai pun meluap. Raja amat bersuka cita. Sambil memeluk putrinya, beliau berkata, “Tuhan sayang pada kita semua. Lihat, air ada di mana-mana. Negeri kita tak lagi kekeringan.”
Raja amat bersyukur karena tak jadi kehilangan putri yang dicintainya.