Dahulu kala, di pinggiran Sungai Kahayan, hiduplah seorang pemuda pemburu bernama Sangi. Dia terkenal sebagai pemburu yang mahir menyumpit binatang buruannya. Sumpitnya selalu tepat sasaran. Namun, suatu hari ia kurang beruntung. Tak ada binatang yang bisa disumpit. Sambil mengeluh, Sangi pun pulang. Dalam perjalanannya, Sangi melihat air sungai amat keruh.
“Pasti ada babi hutan yang baru saja mandi di sini,” gumam Sangi. Lalu, dia memeriksa jejak kaki di sekitar sungai itu. Ternyata benar, Sangi menemukan jejak kaki babi hutan. Dia pun mengikuti arah jejak tersebut.
“Ah, itu dia!” seru Sangi kegirangan. Namun, wajah Sangi berubah ngeri saat melihat apa yang ada di dekat babi hutan itu. Babi hutan itu dicengkeram oleh seekor naga yang amat besar dan berwajah mengerikan.
“Hahaha… ini benar-benar mangsa yang enak!” seru Naga sambil membuka mulutnya, siap menelan mangsanya.
Sangi ketakutan, dia pun bersembunyi di balik semak- semak dan berharap Naga tidak mengetahui keberadaannya.
Namun, sial bagi Sangi. Naga tak jadi memakan babi hutan itu, dan malah menoleh ke arah Sangi bersembunyi. Naga meliuk menghampiri Sangi yang gemetar.
Sementara itu, babi hutan buruannya malah dilepaskan. “Hei, kau! Berani sekali kau mengintipku? Tahukah kau, bahwa siapa pun yang mengintip kami, akan menjadi naga jadi-jadian!” ternyata Naga bisa bicara.
Sangi terbata-bata, ”A… apa maksudnya? Aku tak mau jadi naga jadi-jadian!” kepalanya menggeleng berulang kali. Naga itu tertawa.
“Jangan cemas. Sebenarnya, menjadi naga jadi-jadian malah menguntungkanmu. Kau memiliki tenaga sekuat kami dan kau bisa hidup sampai ratusan tahun tanpa menjadi tua!”
Sangi tertegun. “Benarkah? Jika begitu, aku mau!” wajah Sangi berubah girang.
“Namun, ada syaratnya. Kau tidak boleh membocorkan rahasia ini pada siapa pun. Jika kau melanggarnya, maka wujudmu akan berubah menjadi naga. Seperti aku.” Naga itu menggoyang-goyangkan ekornya. Sangi setuju. Itu syarat yang mudah baginya.
Sejak itu, Sangi menjadi pria yang amat kuat dan disegani orang-orang. Selain itu, wajahnya tak berubah meski usianya sekarang sudah seratus lima puluh tahun. Hal ini membuat anak dan cucunya heran. Mereka terus mendesak agar Sangi menceritakan bagaimana caranya dia tak pernah menjadi tua.
Sangi mengelak, tapi mereka terus mendesak. Tiap hari mereka selalu bertanya. Akhirnya, Sangi keceplosan. Dia membeberkan kisah pertemuannya dengan Naga. Saat Sangi menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Wajah Sangi berubah, matanya membesar, dan giginya meruncing. Kulit badannya dipenuhi sisik, dan di bagian belakang tubuhnya pun tumbuh ekor. Sangi benar-benar berubah menjadi naga! Sangi amat menyesal. Namun, semuanya sudah terlambat. Dia lalu meninggalkan desanya, dan menceburkan diri ke hulu Sungai Kahayan. Di kemudian hari, anak sungai Kahayan itu disebut dengan Sungai Sangi.
