La Upe Sulawesi Selatan

“La Upe... di mana kau?” teriak seorang wanita bernama I Ruga. Mendengar teriakan ibu tirinya, La Upe yang sedang bermain segera berlari pulang. 

“Hari sudah siang, ayo cepat ke sungai, carilah ikan untuk makan siangmu!” perintah I Ruga. La Upe heran. Daging buruan ayahnya masih ada. Namun, dia tak berani membantah. I Ruga amatlah galak. 

Di sungai, La Upe duduk dan memancing ikan. Namun sampai siang, dia tak mendapatkan satu ikan pun. La Upe bingung, karena I Ruga pasti marah. La Upe pasrah, dia tak punya pilihan. 

Saat dia beranjak, tiba-tiba dia merasakan kailnya bergerak-gerak. Ternyata seekor ikan besar sudah tersangkut di kailnya. Hati La Upe girang. Dia melepaskan ikan itu dan menaruhnya di wadah. 

”Anak baik, aku adalah raja ikan. Jika kau mau melepaskanku, aku akan menuruti semua keinginanmu. Kau hanya perlu berkata 'berkat ilmu raja ikan', maka semua permintaanmu akan terkabul.” 

La Upe terkejut, ternyata ikan itu bisa bicara. Tanpa membantah, La Upe melepaskan ikan itu. 

Sesampainya di rumah, La Upe menceritakan kejadian di sungai pada ibu tirinya. Seperti biasa, I Ruga malah marah-marah. Dia bahkan mengambil sapu, dan hendak memukul La Upe. Untunglah, La Upe ingat perkataan raja ikan tadi. Cepat-cepat dia berkata, ”Lekatkan ibu tiriku ke pintu, berkat ilmu raja ikan.” Ternyata benar! Tubuh I Ruga menempel erat di pintu rumahnya. 

I Ruga jadi ketakutan, dan dia memohon agar La Upe membebaskannya. Dia juga berjanji akan menjadi ibu yang baik bagi La Upe. La Upe menuruti permintaan I Ruga. Sejak saat itu, I Ruga tak pernah marah-marah lagi padanya. 

Bertahun-tahun kemudian, La Upe tumbuh menjadi pria dewasa. Suatu hari, ia mengantarkan I Ruga ke kota untuk berbelanja kebutuhan sehari- hari mereka. Saat melewati istana kerajaan, mata La Upe tertumpu pada seorang gadis yang amat cantik jelita. Gadis itu tampak sedang berbincang dengan inangnya. Rupanya gadis itu adalah Putri kerajaan. La Upe jatuh cinta pada Putri raja, dan mengajaknya berkenalan. Ternyata Putri raja juga menyukai La Upe. La Upe lalu berjanji, akan segera melamar Putri Raja. 

Ternyata, Raja dan Permaisuri menolak lamaran itu. Menurut mereka, yang pantas jadi suami Putri mereka hanyalah pangeran atau bangsawan. 

La Upe tak mau berputus asa. Tiap hari dia berpikir dan mencari cara supaya ia bisa menikahi sang Putri. Akhirnya dia menemukan ide. Dia akan melekatkan sang Putri ke pintu, 

persis seperti yang dulu pernah dilakukannya terhadap I Ruga. Ia yakin, Raja dan Permaisuri akan kebingungan. La Upe memberitahukan rencananya pada Putri, melalui sang inang. Malam-malam, La Upe menyusup masuk ke istana. Sang Putri sudah menunggu di jendela bersama inangnya. La Upe mengucapkan mantranya. Tubuh Putri langsung lekat ke pintu. Setelah itu, La Upe segera pulang. 

Keesokan harinya, istana gempar. Raja dan Permaisuri melakukan segala cara untuk melepaskan tubuh putrinya. Namun, semuanya gagal. 

Raja putus asa. Beliau lalu mengadakan sayembara. Siapa yang bisa melepaskan tubuh Putri akan dijadikan menantu. Banyak orang mencoba, namun semuanya gagal. Sekarang tiba giliran La Upe. 

Dengan tenang, La Upe mengucapkan mantra saktinya, ”Lepaskanlah tubuh Putri dari pintu itu, berkat ilmu raja ikan.” 

Tepat saat La Upe menyelesaikan mantranya, tubuh sang putri lepas dari pintu kamarnya. Semua yang hadir, termasuk Raja dan Permaisuri, terbelalak melihat keajaiban yang telah dilakukan La Upe. 

Setelah kejadian itu, La Upe dan Putri menikah. Beberapa tahun kemudian, La Upe pun diangkat menjadi raja, menggantikan ayah mertuanya.