Bagi sebagian orangtua mendampingi anak saat bermain atau belajar bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi bila harus mengaitkannya dengan tujuan dan manfaat dari setiap kegiatan bermain anak.
Demikian halnya dengan mengembangkan kemampuan matematika pada anak. Anak lebih sering diminta menghapalkan angka-angka, jumlah, bentuk-bentuk geometri, berbagai lambang dan bahasa matematika, tanpa perlu memahami prinsip-prinsip dasarnya. Bila demikian, maka sangat besar kemungkinan anak akan mengalami kesulitan ketika memasuki kelas 3 SD. Orangtua kemudian baru menyadari bahwa anak-anak mereka sesungguhnya belum memahami konsep dasar matematika.
Padahal, anak sudah mulai mengembangkan konsep matematika dari berbagai kegiatan sehari-hari. Misalnya ketika bayi, anak tahu bahwa dia kecil sedangkan ibu dan ayahnya besar, meskipun anak belum dapat mengungkapkannya dalam bahasa lisan. Ketika berusia batita (bawah tiga tahun), anak tahu bahwa jika ia menumpuk satu balok pada balok yang lain maka baloknya akan bertambah banyak (jadi dua). Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini meskipun ia tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa lisan. Anak juga tahu kalau ia punya dua balok dan teman- nya punya sepuluh balok, maka balok temannya lebih ban- yak sehingga anak ingin mengambilnya dari temannya. SelaiN itu, anak sering memilih sendiri mainannya meskipun ia tidak tahu dasar pemilihannya. Anak juga tahu jadwal kegiatannya dalam sehari bila hal itu memang dilakukan secara rutin.
<div style="text-align: center;">
<a class="buttonDownload" href="https://drive.google.com/file/d/1f3eh-miZC-mZx-CSC4VniOrYZmM-FYSn/view?usp=sharing">Download</a>
</div>
