Seorang wanita yang sedang hamil mengaduh kesakitan. Rupanya, sudah saatnya bayi dalam kandungannya itu lahir. Suaminya yang bernama Towjatuwa pun panik.
Ia lalu memanggil tetangganya, yang biasa membantu orang melahirkan.
“Maaf, aku memerlukan sesuatu yang tajam untuk membantu proses kelahiran. Kau tahu Sungai Tami? Pergilah ke sana, ambillah batu tajam yang bisa kugunakan,” kata tetangganya itu.
Towjatuwa bertambah kalut, tetapi dia segera melaksanakan perintah tetangganya itu.
Suasana Sungai Tami sepi sekali. Towjatuwa mulai mencari- cari di mana batu tajam itu bisa ditemukan. Ketika sibuk mencari, tiba-tiba terdengar suara aneh di belakangnya. Bulu kuduk Towjatuwa berdiri.
“Suara apa itu, ya?” bisiknya. Dengan sedikit gemetar, dia menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor buaya yang amat besar sedang memandangi dirinya. Towjatuwa nyaris pingsan ketakutan .
Buaya besar itu berjalan mendekati Towjatuwa. Langkahnya pelan, tetapi pasti. Wajah buaya itu sungguh menyeramkan.
Ditambah dengan bulu-bulu burung kasuari di punggungnya, buaya itu semakin tampak aneh dan mengerikan. Bulu-bulu itu mengembang setiap kali buaya itu melangkah.
Towjatuwa bersiap melarikan diri, tetapi tiba-tiba buaya itu menyapanya. Suaranya ramah dan bersahabat, tidak seperti wajahnya yang menyeramkan. Towjatuwa tertegun. “Kau bisa bicara? Apakah kau sejenis buaya sakti?” tanyanya.
Buaya itu tersenyum dan menjawab, “Jangan takut padaku. Namaku Watuwe. Kau boleh saja menganggapku buaya sakti. Sebenarnya aku hanya ingin tahu, apa yang kau cari di sungai ini?”
Towjatuwa lalu menjelaskan keadaan istrinya. Watuwe mendengarkan cerita Towjatuwa dengan saksama. “Pulanglah. Kau tak usah khawatir dengan keadaan istrimu. Aku akan menolong istrimu saat melahirkan,” katanya setelah Towjatuwa menyelesaikan ceritanya.
Sesampainya di rumah, Towjatuwa menceritakan semua kejadian yang dialaminya pada istrinya. “Aku tak jadi mengambil batu tajam. Buaya itu sudah berjanji akan membantu kita.” Sambil terus memegangi perutnya, istrinya menjawab, “Mungkin buaya itu dikirim Tuhan untuk menolong kita.”
Dalam hati, Towjatuwa berharap ucapan istrinya benar. Akhirnya, saat melahirkan telah tiba. Malam itu, istri Towjatuwa tak tahan lagi, perutnya benar-benar terasa mulas. Dia akan melahirkan saat itu juga! Towjatuwa kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba, Watuwe muncul di hadapan mereka dan membantu proses kelahiran anak Towjatuwa.
Towjatuwa dan istrinya lalu sepakat untuk menamai anak mereka Narrowa. Menurut Watuwe, kelak Narrowa akan menjadi pemburu yang andal.
“Kelak anakmu akan menjadi pemburu andal. Namun ingat, jangan izinkan dia untuk membunuh dan memakan daging buaya. Aku sudah membantumu dan aku harap kau juga membantuku untuk menjaga keturunanku.”
Towjatuwa setuju. Sejak saat itu, Towjatuwa dan keturunannya berjanji untuk tidak berburu buaya. Tidak hanya itu, mereka juga mengamankan buaya-buaya di Sungai Tami dari ancaman para pemburu.
