Pada zaman dahulu, ada sepasang suami istri yang hidupnya amat miskin. Mereka adalah Abo Mamongkuroit dan Putri Monondeaga. Meski miskin, mereka saling menyayangi dan hidup bahagia.
Suatu hari, Abo merasa bahwa mereka tak bisa terus hidup seperti itu. Dia memutuskan untuk merantau. “Bagaimana denganku?” tanya Putri Monondeaga kalut. Abo menenangkan istrinya dan berjanji untuk segera menjemputnya. “Jangan cemas. Aku akan segera kembali setelah memiliki cukup harta untuk bekal hidup kita berdua,” janji Abo.
Sepeninggal Abo, Putri Monondeaga menjalani kesehariannya seperti biasa, yaitu memberi makan ayam dan membersihkan rumput di halaman. Saat itulah, sesosok raksasa mengerikan muncul dihadapannya. Dia adalah Tulap, raksasa yang terkenal suka memangsa manusia. Putri Monondeaga gemetar. “Jangan makan aku,” ratapnya. Tulap terbahak. “Aku tak akan memangsamu. Aku hanya minta kau ikut denganku.” Tentu saja perkataan Tulap itu bohong. Nanti setelah Putri Monondeaga ikut dengannya, dia pasti segera memangsanya.
Putri Monondeaga mencari akal. “Kembalilah esok pagi. Aku belum mencuci rambutku selama sebulan. Izinkan aku mencucinya terlebih dahulu,” pintanya. Tulap pun setuju.
Namun, esok harinya, Putri Monondeaga kembali mengelak. “Aku belum mandi. Jemputlah aku esok.” Lagi-lagi dia memberi alasan, dan lagi- lagi Tulap tak bisa menolak. Dan, begitulah yang terjadi tiap hari. Putri Monondeaga membuat alasan agar Tulap tak bisa mengajaknya. Dia berharap, suaminya segera pulang sebelum semuanya terlambat.
Namun, suaminya tak pulang-pulang, padahal Putri Monondeaga sudah kehabisan alasan. Mau tak mau, sekarang dia ikut Tulap. Ternyata benar, Tulap memasukkannya ke dalam kurungan bersama beberapa orang lain yang siap disantap. Beberapa hari kemudian, ternyata Abo Mamongkuroit kembali dari perantauan. Dia kebingungan melihat istrinya tak ada di rumah. Setelah mencari ke sana dan kemari, dia menemukan jejak kaki raksasa. “Ini pasti ulah Tulap, si raksasa pemangsa itu!” teriaknya marah.
Abo berangkat ke rumah Tulap. Sesampainya di sana, dia segera meminta Tulap untuk melepaskan istrinya. Namun, Tulap menolak dan malah menantangnya untuk adu betis. Abo setuju. Dia pun memasang kuda-kuda dan membiarkan Tulap menyerang betisnya. Aneh, Abo sama sekali tak terjatuh. Sebaliknya, malah Tulap yang tersungkur kesakitan. Berkali-kali Tulap mencoba, tapi gagal terus.. Lalu Tulap menantang Abo untuk menyerang betisnya. Di luar dugaan Tulap, Abo langsung menendang betisnya dan Tulap pun tersungkur. Sekarang Tulap menyerah. Dia melepaskan Putri Monondeaga dan juga orang-orang lain yang dikurungnya. Betapa bahagianya Putri Monondeaga bisa bertemu kembali dengan suaminya.
Sejak saat itu, Abo Mamongkuroit tak pernah lagi meninggalkan istrinya. Mereka hidup berbahagia tanpa gangguan dari Tulap.