Putri Tandampalik Sulawesi Selatan

Suatu hari, Putri Tandampalik dari Kerajaan Luwu terserang penyakit aneh. Tubuhnya terserang penyakit kulit yang mengerikan. Setelah diperiksa oleh tabib istana, Putri Tandampalik harus diungsikan. “Ini penyakit menular,” kata Tabib. 

Dengan berat hari, Raja Luwu pun mengungsikan putrinya itu. Apalagi, tabib istana juga menyerah, tak mampu mengobati penyakit itu. 

“Putriku, bawalah keris ini. Ini adalah tanda bahwa Ayah tak pernah melupakanmu, apalagi bermaksud membuangmu. Kau adalah anak Ayah, selama-lamanya. Semoga Tuhan menyembuhkan penyakitmu segera.” 

Putri Tandampalik pergi ditemani oleh beberapa pengawal setia Raja. Mereka mengungsi ke sebuah pulau yang subur. 

“Ah, aku namakan pulau ini Pulau Wajo,” seru Putri Tandampalik riang saat dia menemukan banyak buah wajao di sana. 

Di pulau ini, Putri Tandampalik memulai kehidupan baru, dan berusaha melupakan kesedihannya karena berpisah dari ayahnya. 

Suatu hari, Putri Tandampalik sedang mencuci di danau. Tiba-tiba, ada seekor kerbau putih berjalan mendekat. Kerbau itu lalu asyik minum, kemudian mendekati Putri Tandampalik. Kerbau itu menjulurkan lidahnya, seolah meminta Putri Tandampalik untuk menyentuhnya. Meski bingung, Putri Tandampalik pun menyentuh lidah Kerbau Putih. 

Ajaib, saat tangannya terkena ludah kerbau itu, penyakit kulitnya langsung sembuh. Putri Tandampalik pun bersukacita dan mengabarkan kesembuhannya pada para pengawalnya. “Mulai saat ini, kalian jangan memburu kerbau putih di hutan ini,” perintahnya pada para pengawal. 

Sebenarnya, Putri Tandampalik hendak kembali ke istana. Namun sayang, kapalnya lapuk di beberapa bagian. Para pengawalnya membutuhkan waktu untuk memperbaiki kapal itu. 

Suatu pagi, Putri Tandampalik berjalan-jalan di hutan. Sekonyong-konyong, muncul seorang pemuda tampan di hadapannya. 

“Maafkan aku jika mengejutkanmu. Aku putra mahkota Kerajaan Bone. Aku tersesat dan terpisah dari rombonganku. Tapi aku senang bisa bertemu denganmu,” sapa pemuda itu ramah. 

Putri Tandampalik menyambut perkenalan itu. Namun, belum sampai mereka mengobrol lebih lama, para pengawal putra mahkota itu sudah menemukan mereka. 

“Ayo Pangeran, kita harus pulang,” ajak mereka. Sejak pertemuannya dengan Putri Tandampalik, Pangeran tak bisa tidur. Ia lalu meminta ayahnya untuk melamar Putri Tandampalik. Ayahnya setuju, dan mengirim utusan ke Hutan Wajo. 

Di Hutan Wajo, Putri Tandampalik menerima rombongan Kerajaan Bone. Setelah mengetahui maksud kedatangan rombongan tersebut, Putri Tandampalik menyerahkan keris pemberian ayahnya. “Berikan keris ini pada Raja Luwu. Jika beliau menerimanya dengan baik, maka lamaran ini aku terima.” 

Para utusan pun kembali ke Bone untuk menjemput putra mahkota. Mereka lalu berangkat ke Kerajaan Luwu. 

Di hadapan Raja Luwu, Putra Mahkota Raja Bone menceritakan pertemuannya dengan Putri Tandampalik di Pulau Wajo. Dia juga menyerahkan keris pada Raja Luwu. 

Raja Luwu dan permaisurinya amat gembira mendengar cerita putra mahkota itu. Tanpa pikir panjang, mereka berangkat ke Pulau Wajo untuk menjemput putrinya. 

Akhirnya Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan Bone. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan sangat meriah.