Baitusen dan Mai Lamah adalah sepasang suami istri miskin yang tinggal di Natuna, Kepulauan Riau. Karena bosan hidup miskin, mereka merantau ke Pulau Bunguran yang terkenal kaya isi lautnya. Di sana, Baitusen bekerja sebagai nelayan, Sedangkan Mai Lamah membantu suaminya mencari uang, dengan cara membuat kalung dan gelang dari kulit kerang.
Suatu hari, Baitusen menemukan lubuk dengan ribuan teripang di dalamnya. “Wah, aku sungguh beruntung! Para saudagar dari Singapura dan China mau membeli teripang dengan harga mahal,” katanya senang. Sejak itu, Baitusen menjual teripang kering dibantu Mai Lamah.
Ternyata benar. Banyak saudagar dari Singapura dan China yang datang ke Pulau Bunguran untuk membeli teripang Baitusen. Para saudagar itu lalu memanggil Mai Lamah dengan ”Nyonya May Lam”, sedangkan Baitusen dijuluki ”Saudagar Teripang”.
Sekarang, Baitusen dan Mai Lamah pun jadi orang kaya. Namun, kekayaannya membuat Mai Lamah menjadi sombong. Dia tak mau lagi bergaul dengan tetangganya. Pergaulannya dengan para saudagar telah membuatnya lupa diri. Tak jarang, Mai Lamah menghina para tetangganya yang dianggapnya tidak sederajat dengannya. Meski Baitusen sering menegurnya, Mai Lamah tak peduli. Lama-kelamaan, para tetangga malas bergaul dengan Mai Lamah.
Beberapa bulan kemudian, Mai Lamah hamil. Semenjak hamil, dia malah bertambah sombong. Ketika Mak Semah, tetangganya yang seorang bidan, menawarkan diri untuk memeriksa kehamilannya, Mai Lamah malah mencemoohnya. “Aku hanya akan memeriksakan kehamilanku pada tabib dari China. Mereka jauh lebih hebat darimu,” katanya.
Ketika tiba saatnya Mai Lamah melahirkan, ternyata tabib dari China itu tak ada. Kapalnya sudah pulang ke negerinya. Baitusen jadi bingung. Dia lalu teringat pada Mak Semah.
“Maaf, Baitusen, istrimu sudah menghinaku. Dia bahkan tak mau aku menolongnya,” jawab Mak Semah.
Baitusen panik. Dia pulang ke rumah dan menyuruh Mai Lamah untuk meminta maaf pada Mak Semah.
Hanya Mak Semah-lah satu-satunya orang yang bisa menolongnya saat ini. “Apa? Minta maaf pada bidan kampung itu? Aku tak mau! Lebih baik antarkan aku ke pulau seberang. Di sana ada bidan terkenal,” kata Mai Lamah.
Akhirnya, Baitusen membopong istrinya ke perahu. Mereka harus segera menuju ke pulau seberang. Namun, di tengah perjalanan, Mai Lamah berteriak-teriak minta pulang. Dia takut peti emas yang ditinggalkannya di rumah, dicuri orang.
“Tapi peti itu berat sekali. Isinya emas batangan, kan?” tanya Baitusen.
“Iya, isinya emas kita! Jika peti itu sampai hilang, kita jadi miskin!” kata Mai Lamah lagi. Baitusen pun kembali menuruti perintah istrinya.
Setelah memasukkan peti ke dalam perahu, Baitusen kembali mendayung. Namun, perahunya terasa berat, apalagi gelombang laut juga tinggi. Perahu mulai oleng dan akhirnya tenggelam. Baitusen buru-buru menyelamatkan istrinya, tetapi Mai Lamah malah marah.
”Cepat, selamatkan peti harta kita! Jangan sampai tenggelam!” teriaknya. Baitusen jadi bingung. Dia tak mau meninggalkan istrinya. Dia tetap menarik tubuh Mai Lamah ke pinggir laut. Namun, Mai Lamah terus memberontak. Tiba-tiba, petir menyambar- nyambar. Langit menjadi gelap. Mai Lamah yang melepaskan diri dari suaminya tersambar petir.
Namun aneh, tubuhnya berubah menjadi batu yang berbadan dua. Baitusen hanya bisa meratapi nasib istrinya. Batu itu lama-kelamaan semakin besar, dan akhirnya menjadi sebuah pulau. Pulau itu sekarang dikenal dengan nama Pulau Sanua yang berarti “satu tubuh berbadan dua”.