Suatu hari, terjadi kehebohan di sebuah kerajaan di Pulau Halmahera. Raja baru saja meninggal, dan putranya yang bernama Putra Baginda Binaut sudah tak sabar ingin segera naik takhta. Padahal, dia masih memiliki dua saudara, yaitu Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri.
Binaut terus merayu dan merengek pada ibunya agar dia segera dinobatkan menjadi raja. Dia juga memaksa patih kerajaan untuk mendukungnya. Melihat keteguhan putranya, ratu pun menyetujui pengangkatan Binaut sebagai raja. Sayang, Binaut menjadi raja yang angkuh. Dia juga berlaku semena-mena terhadap rakyat. Tiap kali Ratu menegurnya, dia malah marah-marah. Demikian juga jika Baginda Arif dan Nuri menegurnya, dia akan semakin marah.
Karena tak tahan melihat perlakuan putranya terhadap rakyat, Ratu mengajak Baginda Arif dan Nuri untuk pergi dari istana. Mereka lalu tinggal di sebuah hutan terpencil dan mengasingkan diri.
Sepeninggal ibu dan saudara-saudaranya, Binaut semakin menjadi-jadi. Dia merampas hasil pertanian rakyat, meminta pajak yang tinggi, memaksa rakyat untuk membangun istana megah untuknya, dan masih banyak ketamakannya yang lain. Siapa yang berani melawannya, akan segera dihukum. Lama-kelamaan, rakyat tak tahan dengan kelakuan Binaut, termasuk salah seorang pelayan istana bernama Bijak. Diam- diam, dia melarikan diri dari istana dan mengajak orang- orang membentuk pasukan untuk melawan Binaut.
Bijak lalu mengutarakan rencananya pada Ratu, bahwa dia akan menyerang Binaut dan menyingkirkannya dari istana. “Jangan! Bagaimanapun dia adalah anakku,” pinta Ratu.
Demikian pula dengan Baginda Arif dan Nuri. Mereka tak mau jika Bijak mencelakai saudara mereka. Akhirnya, Binaut tak tertolong. Lahar panas menjalari dirinya. Sebelum terbawa arus lahar, Binaut sempat meminta ampun pada ibu dan saudara-saudaranya. “Ampuni aku, Bu. Juga pada kakak dan adikku, dan semua rakyatku. Maafkan aku,” teriaknya. Teriakannya menghilang ditelan lahar panas yang terus mengalir.
Tubuh Binaut yang terbawa lahar pun terdampar di sebuah tanjung. Konon, sampai sekarang masih terdengar suara tangisan seseorang dari tanjung tersebut. Karena itu, tanjung tersebut dinamakan Tanjung Menangis.